MAQAMAT dan AHWAL
MAKALAH
Disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf
yang diampu
oleh Bapak Moch. Cholid Wardi, M.H.I
Disusun oleh
kelompok 4 :
1.
Lailatul
Fitriyah Busiri (20170703022108)
2.
Lailatul
Qomariyah (20170703022109)
3.
Luluk
Maulinda Sari (20170703022114)
4.
Masidatul
Ilmiyah (20170703022117)
5.
Meisita
Nurhadi (20170703022120)
KELAS PBS F
PROGRAM STUDI
PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI
dan BISNIS ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGERI PAMEKASAN
2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha
Pemurah dan Lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan Hidayah, Inayah, dan Rahmat-Nya. Sehingga kami mampu
menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Maqamat dan Ahwal”
tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah sudah kami lakukan
semaksimal mungkin dengan dukungan dari rekan-rekan, sehingga bisa
memudahkan dalam penyusunannya. Untuk itu kami pun tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah membantu kami dalam rangka
menyelesaikan makalah ini.
Tidak lepas dari semua itu, kami sadar bahwa
dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan
bahasa serta aspek-aspek lainnya. Maka dari itu, dengan lapang dada kami
membuka seluas-luasnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik
ataupun sarannya demi sempurnanya makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat berharap semoga dari
makalah yang sederhana ini bisa bermanfaat dan juga besar keinginan kami bisa
menginspirasi para pembaca untuk mengangkat berbagai permasalah lainnya yang
masih berhubungan pada makalah-makalah berikutnya.
Pamekasan, September 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... 1
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... 2
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 3
C. Tujuan Masalah.......................................................................................... 3
BAB II. PEMBAHASAN
A. Maqamat.................................................................................................... 4
B. Ahwal....................................................................................................... 11
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................. 15
B. Saran........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 16
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Lingkup
perjalanan menuju Allah untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku di
kalangan sufi disebut dengan kerangka
irfani. Kerangka sikap dan perilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode
tertentu yang disebut thariqah atau jalan mengenal Allah.
Para
sufi memiliki suatu konsepsi tentang jalan (thariqah) menuju Allah.
Jalan ini merupakan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) yang dilakukan
secara bertahap. Latihan-latihan itu ditempuh dalam berbagai fase yang dikenal
dengan maqamat (tingkatan-tingkatan) serta ahwal (keadaan-keadaan),
dan kemudian berakhir dengan mengenal Allah. Keterkaitan antar keduanya dapat
dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan dan
dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan
dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya.
Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut tahapan-tahapan dalam maqamat
dan ahwal.
B.
Rumusan masalah
1.
Apa pengertian dan tahapan-tahapan dalam maqamat?
2.
Apa pengertian dan tahapan-tahapan dalam ahwal?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dan tahapan-tahapan dalam maqamat
2.
Untuk mengetahui pengertian dan tahapan-tahapan dalam ahwal
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Maqamat
Maqamat merupakan bentuk jamak dari maqam. Secara etimologi, maqam
mengandung arti kedudukan dan tempat
berpijak dua telapak kaki.
Sementara itu
dalam pengertian terminolgi, istilah maqam mengandung pengertian
kedudukan, posisi, tingkatan, atau kedudukan tahapan hamba dalam mendekatkan
diri kepada Allah.
Jadi, maqam
sering dipahami oleh para sufi sebagai tingkatan, yaitu tingkatan seorang hamba
di hadapa-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan (riyadhah) jiwa yang
dilakukannya.[1]
Maqam adalah hasil kesungguhan dan perjuangan terus menerus, dengan
melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik. Berkaitan dengan berapa maqam
yang harus dilalui oleh seorang Sufi untuk mencapai Tuhannya, para Sufi berbeda
pendapat tentang hal ini.
Terhadap perbedaan
pendapat tersebut ada beberapa maqamat yang disepakati oleh para ahli Tasawuf, yaitu al-taubah,
al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabar, al-tawakkal, dan al-ridla. Sedangkan
maqamat lainnya, yaitu al-tawadlu, al-mahabbah, al-ma’rifah.[2]
Berikut akan dijelaskan macam-macam maqam dalam ilmu tasawuf :
1.
Al-Zuhud
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang
bersifat keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya
keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian.
Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam
rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih
mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi,
daripada mengejar kehidupan dunia yang
fana dan sepintas lalu.[3]
Perilaku zuhud diteladani oleh Rasulullah dan para
sahabatnya. Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sederhana, hidup miskin dan
tidak mau bergelimang harta. Dalam banyak riwayat dapat digambarkan betapa
Rasulullah Muhammad SAW yang memilki sikap zuhud, dengan rumahnya yang sangat
sederhana, tempat tidur yang terbuat dari pelepah kurma, bahkan beliau terkenal
dengan doanya: “Ya Allah hidupkanlah saya dalam keadaan miskin dan matikanlah
saya dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah saya nanti di hari Kiamat bersama
orang-orang miskin.” Keadaan miskin Rasulullah dalam kehidupannya memang
merupakan kemauan dan kehendaknya., dan hal tersebut merupakan teladan bagi
ummatnya untuk tidak menampilkan kehidupan yang mewah dan glamor.[4]
2.
Al- Taubah
Al-Taubah berasal dari bahasa Arab taba, yatubu,
taubatan yang artinya kembali. Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan
sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang
sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, juga melakukan
amal kebijakan. Harun Nasution, mengatakan taubat yang dimaksud sufi ialah
taubat yang sebenarnya, yaitu yang tidak akan membawa dosa lagi.[5]
Ketika seorang bertaubat dari dosa-dosa yang berkaitan dengan
Allah, maka harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan.
2) Menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan.
3) Bertekad
untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat yang telah dilakukan.[6]
3.
Al-Wara’
Al-Wara’ adalah sikap berhati-hati terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Mereka
yang memiliki sifat ini selalu berusaha agar tidak melanggar aturan Allah meskipun
itu hanya kemaksiatan yang tampak kecil. Seorang yang bersikap wara’ adalah
mereka yang selalu berhati-hati dalam segala prilakunya sehingga tidak terjerumus
kepada hal-hal yang tidak disenangi atau diridhai Allah baik yang hukumnnya
makruh apalagi haram.[7]
4.
Al-Faqr
Al-Faqr adalah tidak menuntut banyak dan merasa cukup dengan apa yang
telah diterima dan dianugerahi oleh Allah, sehingga tidak mengharapkan atau
meminta sesuatu yang bukan haknya. Dengan demikian, seorang yang faqr
selalu merasa berkecukupan dan merasa puas dalam menjalani kehidupan. Sikap ini
sangat penting sehingga manusia dapat terhindar dari sifat serakah dan rakus.
Sikap al-faqr merupakan kelanjutan sifat zuhud, karena dengan zuhud
terhadap kehidupan di dunia tentu tidak akan terperdaya, seorang akan merasa puas
dan cukup dengan apa yang diperolehnya. Selain itu sifat al-faqr akan
menghasilkan sifat wara’, karena dengan menerima apa yang dianugerahkan
Allah kepadanya, ia akan bersikap hati-hati dan tidak akan menuntut suatu yang
bukan haknya.[8]
5.
Al- Shabr
Secara harfiah,
sabar berarti tabah hati. Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan
diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika
mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada
dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.[9]
Di dalam
Al-Quran, terdapat beberapa ayat yang menerangkan seseorang harus memilki sifat
sabar, yaitu:
وَاصْبِرْ
وَمَا صَبْرُكَ اِلاَّ بِالله وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيهِم وَلاَتَكُ فِي ضَيْقٍ
مِمَّا يَمكُرُوْنَ
“Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap
(kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka
dayakan” [Q.S. An-Nahl 14:127]
Dalam ajaran tasawuf sifat sabar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a.
Sabar dalam beribadah kepada Allah.
b.
Sabar dalam menjauhi larangan Allah.
c.
Sabar dalam menerima cobaan dari Allah.[10]
6.
Tawakkal
Tawakkal berwazan tafaaulun dari kata al-wakalah atau al-wikalah
yang berarti memperlihatkan ketidakmampuan dan bersandar pada orang lain.
Menurut terminologi tawakkal adalah membebaskan diri dari segala ketergantungan
kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyerahkan segala sesuatunya
kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tawakkal merupakan
sikap pasrah terhadap Allah dalam menjalani setiap urusan. Sifat tawakkal ini
adalah tingkatan tertinggi.
Seorang yang
bertawakkal akan selalu merasa Allah didekatnya, meskipun ia diderita dengan
berbagai kesusahan dan kesedihan, dia yakin bahwa Allah sebagai Maha Pencipta
merencanakan dan melaksankan sesuatu yang terbaik bagi kehidupannya. Dalam
keyakinannya, Allah tidak akan memberikan keputusan yang tidak baik baginya dan
selalu menentukan pilihan terbaik dalam kehidupannya.
Al-Ghazali
menekankan agar seseorang tidak salah dalam memahami tawakkal, yaitu ketika
memahami tawakkal menyerahkan urusan kepada Allah tanpa melakukan usaha
sedikitpun. Ia menyebut seorang yang melakukan hal itu sebagai tindakan bodoh
dan diharamkan dalam syari’at. Makna hakiki dari tawakkal adalah seorang yang
meyakini bahwa sebab-sebab yang lahir itu tidak membatalkan kehendak Allah.
Allah mengawasi sebab-sebab dan dasar-dasarnya pada dorongan. Manusia wajib
bekerja sebagaimana diperintahkan syari’at dan wajib menyerahkan hasilnya
kepada Allah.[11]
7.
Ridha
Ridha ialah menerima anugrah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan
ikhlas atau puas dan tulus menerima ketentuan ilahi. Orang yang ridha mampu
melihat hikmah dan kebaikan di balik cobaan yang diberikan Allah juga tidak
berburuk sangka terhadap ketentuan-Nya. Terlebih lagi, ia mampu melihat
keagungan, kebesaran dan kemahasempurnaan Dzat yang memberikan cobaan
kepada-Nya sehingga tidak mengeluh dan merasakan sakit atas cobaan tersebut.
Hanyalah ahli ma’rifah dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini. Mereka
bahkan merasakan musibah dan ujian sebagai suatau nikmat, lantaran jiwanya
bertemu dengan yang dicintainya.
Menurut Du An-Nun Al-Mishri, tanda-tanda orang yang telah ridha
adalah,
a. Mempercayakan
hasil usaha sebelum terjadi ketentuan.
b. Lenyapnya resah gelisah sebelum terjadi ketentuan.
c. Cinta yang
gelora di kala turunnya malapetaka.[12]
8.
Mahabbah
Mahabbah (mencintai)
Allah adalah kedudukan yang paling tinggi dan mulia guna menuju keridhaan
Allah, karena hanya Allah yang Maha Besar, Maha Penguasa, Maha Suci, Maha
Pencipta dan Maha Pemberi. Kecintaan kepada Allah merupakan nikmat yang
terbesar dalam kehidupan seseorang. Dengan kedamian dan ketenangan hati yang di
landasi atas dasar cinta kepada Allah akan dapat menyembuhkan hati manusia.
Kecintaan kepada Allah dengan cara yang benar akan menempatkan
Allah, Rasul, dan jihad-Nya sebagai cinta tertinggi diatas segala cinta
lainnya. Seseorang yang mencintai Allah akan di cintai oleh Allah. Dalam
praktek ibadah sehari-hari ada beberapa amalan yang dapat mengantarkan cinta
Allah, yaitu;
1.
Mengamalkan kewajiban-kewajiban yang qath’i wajib maktubah
dengan memperhatikan keikhlasan dan kekhusukan, selain itu juga diupayakan
membaca al-qur’an secara istiqamah yang disertai dengan upaya memahami
kandungan dan tafsirnya.
2.
Berusaha mengamalkan ibadah yang bersifat nawafil atau mustahab
dalam rangka mendekatkan diri kepada
Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
3.
Selalu mengingat Allah Subhanahu
Wa Ta’ala, baik dengan lisan, terutama dzikir dengan hati dalam setiap keadaan.
4.
Lebih mengutamakan mencintai Allah dari pada dirinya ketika hawa
nafsu menguasai dirinya.
5.
Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat
bagi Allah.
6.
Melihat kebaikan nikmat-Nya baik yang lahir maupun yang batin.
7.
Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
8.
Melakukan sholat dan dzikir pada sepertiga malam terakhir untuk
bermunajat kepada-Nya, membaca al-qur’an, merenung dengan hati serta
mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan
istighfar dan taubat.
9.
Bargaul dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus
kepada Allah.
10.
Menjauhi atau menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari
mengingat Allah SWT.[13]
9.
Ma’rifah
Dari segi bahasa ma’rifat berasal dari kata arafa, ya’rifu,
irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. Dari akar kata
ini, ma’rifat dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang rahasia dan hakekat
tentang ketuhanan. Dengan demikian kedudukan ma’rifat merupakan kedudukan yang
tertinggi jika dibandingkan dengan ilmu dzahir yang dapat dicapai oleh manusia
pada umumnya.
Menurut sebagaian ulama, ma’rifat adalah kemampuan seorang sufi
untuk mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, kemudian ia membenarkan Allah dengan
keyakinan dan iman sejati dan dengan suka rela melaksanakan ajaran-Nya dalam
segala perbuatan. Dengan kemampuannya, para sufi dapat melihat cahaya ketuhanan
dan tabir yang menghalanginya tersingkap. Keadaan inilah yang di gambarkan oleh
Al-Ghazali sebagai kejadian musyahadah dan mukasyafah, yaitu
keadaan yang dengannya seorang sufi dapat menyaksikan kebenaran,
rahasia-rahasia ketuhanan dan hal-hal yang ghaib dengan izin Allah, dan
selanjutnya tersingkap tabir penghalang antara ia dengan Tuhannya.
Tingkatan ma’rifat kepada Allah ada tiga tingkatan, yaitu; 1) Ma’rifat
dengan Allah mengunakan pengelihatan hati. Ma’rifat inilah yang di alami oleh
para sufi yang telah mencapai waliyullah. 2) Ma’rifat dengan dalil-dalil
yaitu ma’rifat yang dialami oleh ulama syari’at.
3) Ma’rifat
ikut-ikutan (taklid), yaitu tingkatan orang awam yang mengenal Allah, didasarkan
kepada kezaliman dan tradisi yang berlaku tanpa didasari dalil yang kuat.[14]
B.
Ahwal
Istlah ahwal merupakan bentuk
jamak dari hal. Secara etimologi, ahwal berarti sifat dan keadaan
sesuatu. Secara terminologi, yang dimaksud dengan ahwal ialah keadaan
atau kondisi psikologis yang dirasakan ketika seorang sufi mencapai maqam
tertentu.
Ahwal merupakan sebuah batasan teknis dalam displin tasawuf untuk suatu
keadaan tertentu yang bersifat tidak permanen dan kebalikan dari maqamat,
yaitu kedudukan kejiwaan yang lebih bersifat permanen. Hal masuk ke
dalam hati sebagai anugrah dan karunia dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang
tidak terbatas pada hamba-Nya. Hal tidak dapat dicapai melalui usaha,
keinginan, atau undangan. Hal datang dan pergi tanpa diduga-duga.
Dapat dikatakan bahwa hal merupakan
pemberian yang berasal dari Tuhan kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Pemberian
itu ada kalanya tanpa melalui usaha. Tidak semua orang yang berusaha itu
berhasil, namun ia menjadi dambaan bagi setiap orang yang menjalani tasawuf.
Hubungan antara usaha dan hasil dalam perkara ini tidak bersifat mutlak.
Ahwal yang sering dijumpai dalam perjalan kaum sufi, antara lain muhasabah
(mawas diri) dan muraqabah (waspada), qarb (kedekatan), hubb (cinta),
khauf (takut), raja’ (harap), syauq (rindu), uns
(intim), thuma’ninah (tentram), musyahadah (penyaksian), dan yaqin
(yakin).[15]
Penjelasan tentang hal-hal yang
dimaksud adalah sebagai berikut.
1.
Muhasabah dan
Muraqabah (Mawas Diri dan Waspada)
Muhasabah
ialah menyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan , dan rahasia
dalam hati yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada-Nya.
Proses analisis atas hati berikut keadaannya selalu berubah. Selama
seseorang melakukan muhasabah, ia merenung lalu memeriksa gerakan hati
yang paling tersembunyi. Ia menghisab (menghitung) dirinya sendiri sekarang
tanpa menunggu hingga hari kebangkitan.
Muraqabah mengandung
pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dalam
keadaan diawasi-Nya. Muraqabah dapat diartikan pula dengan melestarikan
pengamatan terhadap Allah melalui hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan
dan hukum-hukum-Nya.
Muhasabah dan
muraqabah merupakan dua hal yang salin berkaitan erat. Oleh karena itu, ada
sufi yang mengupasnya secara bersamaan. Ketika seorang sufi selalu mawas diri,
bercermin pada diri sendiri, maka akan melahirkan sikap waspada agar kesalahan dan kekhilafan yang pernah
dilakukannya tidak dilakukan lagi.[16]
2.
Raja’ dan
Khauf (Berharap dan Takut)
Dalam pandangan kaum sufi sifat mengharap dan takut berjalan secara
berbarengan. Raja’ adalah perasaan optimis terhadap rahmat Allah, dan
hati merasa tentram karena menunggu sesuatu yang diinginkan. Namun sikap
mengharap itu diikuti oleh perasaan takut terhadap berbagai kemungkinan yang
akan membawa kebencian Allah.[17] Raja’
menuntut tiga perkara, yaitu
a.
Cinta kepada apa yang di harapkannya.
b.
Takut apabila harapannya hilang.
c.
Berusaha untuk mencapainya.
Berkaitan
dengan ini, Ahmad Faridh menegaskan bahwa khauf merupakan cambuk yang
digunakan Allah untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju ilmu dan amal supaya
dengan keduanya itu mereka dapat dekat kepada-Nya. Khauf ialah kesaksian hati karena membayang sesuatu yang ditakuti, yang
akan menimpa diri di masa yang akan datang. Khauf dapat mencegah hamba berbuat maksiat dan
mendorongnya untuk senantiasa berada dalam ketaatan.
Khauf
dan raja’ saling berhubungan. Kekurangan khauf menyebabkan
seseorang lalai dan berani berbuat maksiat, sedangkan khauf yang berlebihan akan menjadikannya putus asa
dan pesimistis. Begitu juga sebaliknya, apabila sikap raja’ terlalu besar, hal
itu akan membuat seseorang menjadi sombong dan meremehkan malan-amalannya
karena rasa optimistisnya yang berlebihan.[18]
3.
Hubb
(Cinta)
Hubb adalah
cinta. Maksudnya, cinta seorang hamba kepada Tuhan. Dalam pandangan tasawuf, hubb
pada dasarnya anugerah yang menjadi dasar pijakan hal, sama seperti
taubat yang menjadi dasar pijakan maqam. Sementara itu, muhabbah ialah
kecenderungan hati untuk memperhatikan keindahan dan kecantikan. Berkenaan
dengan ini , Suhrawardi mengatakan, “Sesungguhnya, muhabbah ialah mata
rantai keselarasan yang mengikat sang pencinta kepada kekasihnya. Perasaan ini
merupakan ketertarikan kepada kekasih (Allah) yang menarik sang pencinta dan
melenyapkan sesuatu dan wujudnya sehingga pertama-tama ia menguasai seluruh
sifat-Nya, kemudian menangkap Dzat-Nya dalam genggaman qudrat (Allah) .”
Kecintaan dan kerinduan kepada Allah adalah salah satu simbol yang
disukai sufi untuk menyatakan rasa kedekatannya dengan-Nya. Ajaran ini pertama
kali diperkenalkan oleh Rabi’ah Al-Adawiyyah (w. 185 H), kemudian di kembangkan
oleh Ibnu Al-Faridh (w. 863 H) dan Jalaluddin Rumi (w. 672 H).[19]
4.
Syauq dan
Usn (Rindu dan Intim)
Dalam ajaran tasawuf
disebutkan bahwa seorang sufi selalu merasa rindu dalam jiwanya kepada
Allah. Dalam pandangan sebagian sufi menyatakan bahwa maut adalah bukti yang
benar ketika seorang sufi merasakan rindu kepada-Nya, dan melupakan Allah
adalah lebih berbahaya dari kematian. Bagi mereka, kematian adalah sarana untuk
bertemu dan melepaskan kerinduan dengan Allah, karena kehidupan adalah
perintang pertemuan dengan Allah.
Intim merasa selalu berteman, bercengkrama dengan Allah. Seorang
sufi yang memiliki perasaan intim berhubungan dengan Allah dengan penuh
keasyikan dan kenyamanan. Mereka beribadah dengan penuh ketentraman dan
ketenangan yang tiada bandingannya. Perasaannya selalu bersama dan berteman
dengan Allah, yang hal itu dapat menghilangkan ingatannya kepada selain Allah
Subhanahu Wa Ta’ala.[20]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Maqam
sering dipahami oleh para sufi sebagai tingkatan, yaitu tingkatan seorang hamba
di hadapa-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan (riyadhah) jiwa yang
dilakukannya. Maqam adalah hasil kesungguhan dan perjuangan terus
menerus, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik.
Hal masuk ke dalam hati sebagai anugrah dan karunia dan rahmat Allah Subhanahu
Wa Ta’ala yang tidak terbatas pada hamba-Nya. Hal tidak dapat dicapai
melalui usaha, keinginan, atau undangan. Hal datang dan pergi tanpa
diduga-duga. Dapat dikatakan bahwa hal merupakan pemberian yang berasal
dari Tuhan kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
Antara
maqam dan ahwal tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antar
keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat
menuju Tuhan, dan dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal
yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki
maqam-maqam selanjutnya.
B.
Saran
Setelah
mengetahui penjabaran tentang maqamat dan ahwal beserta
tingkatan-tingakatnnya, diharapkan pembaca bisa meningkatkan ibadah kepada
Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga bisa memperoleh karunia-Nya. Semakin khusyuk
dan istiqomah ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentu akan meningkatkan
derajat kita disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. Akhlak
Tasawuf. Jakarta : Rajawali pers. 2009
Munir Amin,
Samsul. Ilmu Tasawuf. Jakarta : Amzah. 2015
Muchlis
Solichin, Mohammad. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. Surabaya :
Pena salsabila. 2013
[2] Mohammad
Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya :
Pena salsabila. 2013), 151-152
[4] Mohammad
Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya :
Pena salsabila. 2013), 152-153.
[6] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana
Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 155.
[10] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana
Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 156-157.
[13] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana
Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 163-166.
[17] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana
Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 177.
[20] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana
Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 179-180.

No comments:
Post a Comment