Wednesday, December 6, 2017

Maqamat dan Ahwal

MAQAMAT dan AHWAL

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf
yang diampu oleh Bapak Moch. Cholid Wardi, M.H.I


Disusun oleh kelompok 4 :
1.     Lailatul Fitriyah Busiri       (20170703022108)
2.     Lailatul Qomariyah            (20170703022109)
3.     Luluk Maulinda Sari          (20170703022114)
4.     Masidatul Ilmiyah              (20170703022117)
5.     Meisita Nurhadi                 (20170703022120)

KELAS PBS F




PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI dan BISNIS ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
2017



KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pemurah dan Lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Hidayah, Inayah, dan Rahmat-Nya. Sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Maqamat dan Ahwal” tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah sudah kami lakukan semaksimal mungkin dengan dukungan dari rekan-rekan, sehingga bisa memudahkan dalam penyusunannya. Untuk itu kami pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah membantu kami dalam rangka menyelesaikan makalah ini.
Tidak lepas dari semua itu, kami sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa serta aspek-aspek lainnya. Maka dari itu, dengan lapang dada kami membuka seluas-luasnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi sempurnanya makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat berharap semoga dari makalah yang sederhana ini bisa bermanfaat dan juga besar keinginan kami bisa menginspirasi para pembaca untuk mengangkat berbagai permasalah lainnya yang masih berhubungan pada makalah-makalah berikutnya.
Pamekasan, September 2017


    Penyusun





DAFTAR  ISI
KATA  PENGANTAR......................................................................................... 1
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 2

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 3
C. Tujuan Masalah.......................................................................................... 3

BAB II. PEMBAHASAN
A. Maqamat.................................................................................................... 4
B. Ahwal....................................................................................................... 11
                                                                               
BAB IIIPENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................. 15
B. Saran........................................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 16














BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku di kalangan sufi  disebut dengan kerangka irfani. Kerangka sikap dan perilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode tertentu yang disebut thariqah atau jalan mengenal Allah.
Para sufi memiliki suatu konsepsi tentang jalan (thariqah) menuju Allah. Jalan ini merupakan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) yang dilakukan secara bertahap. Latihan-latihan itu ditempuh dalam berbagai fase yang dikenal dengan maqamat (tingkatan-tingkatan) serta ahwal (keadaan-keadaan), dan kemudian berakhir dengan mengenal Allah. Keterkaitan antar keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan dan dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut tahapan-tahapan dalam maqamat dan ahwal.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian dan tahapan-tahapan dalam maqamat?
2.      Apa pengertian dan tahapan-tahapan dalam ahwal?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dan tahapan-tahapan dalam maqamat
2.      Untuk mengetahui pengertian dan tahapan-tahapan dalam ahwal








BAB II
PEMBAHASAN
A.   Maqamat
Maqamat merupakan bentuk jamak dari maqam. Secara etimologi, maqam mengandung arti kedudukan dan tempat  berpijak dua telapak kaki.
            Sementara itu dalam pengertian terminolgi, istilah maqam mengandung pengertian kedudukan, posisi, tingkatan, atau kedudukan tahapan hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.
            Jadi, maqam sering dipahami oleh para sufi sebagai tingkatan, yaitu tingkatan seorang hamba di hadapa-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan (riyadhah) jiwa yang dilakukannya.[1]
            Maqam adalah hasil kesungguhan dan perjuangan terus menerus, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik. Berkaitan dengan berapa maqam yang harus dilalui oleh seorang Sufi untuk mencapai Tuhannya, para Sufi berbeda pendapat tentang hal ini.
            Terhadap perbedaan pendapat tersebut ada beberapa maqamat  yang disepakati oleh para ahli Tasawuf, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabar, al-tawakkal, dan al-ridla. Sedangkan maqamat lainnya, yaitu al-tawadlu, al-mahabbah, al-ma’rifah.[2] Berikut akan dijelaskan macam-macam maqam dalam ilmu tasawuf :
1.      Al-Zuhud
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian.
Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, daripada  mengejar kehidupan dunia yang fana dan sepintas lalu.[3]
Perilaku zuhud diteladani oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sederhana, hidup miskin dan tidak mau bergelimang harta. Dalam banyak riwayat dapat digambarkan betapa Rasulullah Muhammad SAW yang memilki sikap zuhud, dengan rumahnya yang sangat sederhana, tempat tidur yang terbuat dari pelepah kurma, bahkan beliau terkenal dengan doanya: “Ya Allah hidupkanlah saya dalam keadaan miskin dan matikanlah saya dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah saya nanti di hari Kiamat bersama orang-orang miskin.” Keadaan miskin Rasulullah dalam kehidupannya memang merupakan kemauan dan kehendaknya., dan hal tersebut merupakan teladan bagi ummatnya untuk tidak menampilkan kehidupan yang mewah dan glamor.[4]
2.      Al- Taubah
Al-Taubah  berasal dari bahasa Arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, juga melakukan amal kebijakan. Harun Nasution, mengatakan taubat yang dimaksud sufi ialah taubat yang sebenarnya, yaitu yang tidak akan membawa dosa lagi.[5]
Ketika seorang bertaubat dari dosa-dosa yang berkaitan dengan Allah, maka harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan.
2) Menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan.
3) Bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat yang telah dilakukan.[6]
3.      Al-Wara’
Al-Wara’ adalah sikap berhati-hati terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Mereka yang memiliki sifat ini selalu berusaha agar tidak melanggar aturan Allah meskipun itu hanya kemaksiatan yang tampak kecil. Seorang yang bersikap wara’ adalah mereka yang selalu berhati-hati dalam segala prilakunya sehingga tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak disenangi atau diridhai Allah baik yang hukumnnya makruh apalagi haram.[7]
4.      Al-Faqr
Al-Faqr adalah tidak menuntut banyak dan merasa cukup dengan apa yang telah diterima dan dianugerahi oleh Allah, sehingga tidak mengharapkan atau meminta sesuatu yang bukan haknya. Dengan demikian, seorang yang faqr selalu merasa berkecukupan dan merasa puas dalam menjalani kehidupan. Sikap ini sangat penting sehingga manusia dapat terhindar dari sifat serakah dan rakus. Sikap al-faqr merupakan kelanjutan sifat zuhud, karena dengan zuhud terhadap kehidupan di dunia tentu tidak akan terperdaya, seorang akan merasa puas dan cukup dengan apa yang diperolehnya. Selain itu sifat al-faqr akan menghasilkan sifat wara’, karena dengan menerima apa yang dianugerahkan Allah kepadanya, ia akan bersikap hati-hati dan tidak akan menuntut suatu yang bukan haknya.[8]
5.      Al- Shabr
Secara harfiah, sabar berarti tabah hati. Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.[9]
Di dalam Al-Quran, terdapat beberapa ayat yang menerangkan seseorang harus memilki sifat sabar, yaitu:
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلاَّ بِالله وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيهِم وَلاَتَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمكُرُوْنَ
“Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka dayakan” [Q.S. An-Nahl 14:127]
Dalam ajaran tasawuf sifat sabar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Sabar dalam beribadah kepada Allah.
b.      Sabar dalam menjauhi larangan Allah.
c.       Sabar dalam menerima cobaan dari Allah.[10]
6.      Tawakkal  
Tawakkal berwazan tafaaulun dari kata al-wakalah atau al-wikalah yang berarti memperlihatkan ketidakmampuan dan bersandar pada orang lain. Menurut terminologi tawakkal adalah membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
            Tawakkal merupakan sikap pasrah terhadap Allah dalam menjalani setiap urusan. Sifat tawakkal ini adalah tingkatan tertinggi.
            Seorang yang bertawakkal akan selalu merasa Allah didekatnya, meskipun ia diderita dengan berbagai kesusahan dan kesedihan, dia yakin bahwa Allah sebagai Maha Pencipta merencanakan dan melaksankan sesuatu yang terbaik bagi kehidupannya. Dalam keyakinannya, Allah tidak akan memberikan keputusan yang tidak baik baginya dan selalu menentukan pilihan terbaik dalam kehidupannya.
            Al-Ghazali menekankan agar seseorang tidak salah dalam memahami tawakkal, yaitu ketika memahami tawakkal menyerahkan urusan kepada Allah tanpa melakukan usaha sedikitpun. Ia menyebut seorang yang melakukan hal itu sebagai tindakan bodoh dan diharamkan dalam syari’at. Makna hakiki dari tawakkal adalah seorang yang meyakini bahwa sebab-sebab yang lahir itu tidak membatalkan kehendak Allah. Allah mengawasi sebab-sebab dan dasar-dasarnya pada dorongan. Manusia wajib bekerja sebagaimana diperintahkan syari’at dan wajib menyerahkan hasilnya kepada Allah.[11]
7.      Ridha
Ridha ialah menerima anugrah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan ikhlas atau puas dan tulus menerima ketentuan ilahi. Orang yang ridha mampu melihat hikmah dan kebaikan di balik cobaan yang diberikan Allah juga tidak berburuk sangka terhadap ketentuan-Nya. Terlebih lagi, ia mampu melihat keagungan, kebesaran dan kemahasempurnaan Dzat yang memberikan cobaan kepada-Nya sehingga tidak mengeluh dan merasakan sakit atas cobaan tersebut. Hanyalah ahli ma’rifah dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini. Mereka bahkan merasakan musibah dan ujian sebagai suatau nikmat, lantaran jiwanya bertemu dengan yang dicintainya.
Menurut Du An-Nun Al-Mishri, tanda-tanda orang yang telah ridha adalah,
a.       Mempercayakan hasil usaha sebelum terjadi ketentuan.
b.      Lenyapnya  resah gelisah sebelum terjadi ketentuan.
c.       Cinta yang gelora di kala turunnya malapetaka.[12]
8.      Mahabbah
Mahabbah (mencintai) Allah adalah kedudukan yang paling tinggi dan mulia guna menuju keridhaan Allah, karena hanya Allah yang Maha Besar, Maha Penguasa, Maha Suci, Maha Pencipta dan Maha Pemberi. Kecintaan kepada Allah merupakan nikmat yang terbesar dalam kehidupan seseorang. Dengan kedamian dan ketenangan hati yang di landasi atas dasar cinta kepada Allah akan dapat menyembuhkan hati manusia.
Kecintaan kepada Allah dengan cara yang benar akan menempatkan Allah, Rasul, dan jihad-Nya sebagai cinta tertinggi diatas segala cinta lainnya. Seseorang yang mencintai Allah akan di cintai oleh Allah. Dalam praktek ibadah sehari-hari ada beberapa amalan yang dapat mengantarkan cinta Allah, yaitu;
1.      Mengamalkan kewajiban-kewajiban yang qath’i  wajib maktubah dengan memperhatikan keikhlasan dan kekhusukan, selain itu juga diupayakan membaca al-qur’an secara istiqamah yang disertai dengan upaya memahami kandungan dan tafsirnya.
2.      Berusaha mengamalkan ibadah yang bersifat nawafil atau mustahab  dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
3.       Selalu mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik dengan lisan, terutama dzikir dengan hati dalam setiap keadaan.
4.      Lebih mengutamakan mencintai Allah dari pada dirinya ketika hawa nafsu menguasai dirinya.
5.      Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat bagi Allah.
6.      Melihat kebaikan nikmat-Nya baik yang lahir maupun yang batin.
7.      Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
8.      Melakukan sholat dan dzikir pada sepertiga malam terakhir untuk bermunajat kepada-Nya, membaca al-qur’an, merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.
9.      Bargaul dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah.
10.  Menjauhi atau menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah SWT.[13]
9.      Ma’rifah
Dari segi bahasa ma’rifat berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. Dari akar kata ini, ma’rifat dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang rahasia dan hakekat tentang ketuhanan. Dengan demikian kedudukan ma’rifat merupakan kedudukan yang tertinggi jika dibandingkan dengan ilmu dzahir yang dapat dicapai oleh manusia pada umumnya.
Menurut sebagaian ulama, ma’rifat adalah kemampuan seorang sufi untuk mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, kemudian ia membenarkan Allah dengan keyakinan dan iman sejati dan dengan suka rela melaksanakan ajaran-Nya dalam segala perbuatan. Dengan kemampuannya, para sufi dapat melihat cahaya ketuhanan dan tabir yang menghalanginya tersingkap. Keadaan inilah yang di gambarkan oleh Al-Ghazali sebagai kejadian musyahadah dan mukasyafah, yaitu keadaan yang dengannya seorang sufi dapat menyaksikan kebenaran, rahasia-rahasia ketuhanan dan hal-hal yang ghaib dengan izin Allah, dan selanjutnya tersingkap tabir penghalang antara ia dengan Tuhannya.
Tingkatan ma’rifat kepada Allah ada tiga tingkatan, yaitu; 1) Ma’rifat dengan Allah mengunakan pengelihatan hati. Ma’rifat inilah yang di alami oleh para sufi yang telah mencapai waliyullah. 2) Ma’rifat dengan dalil-dalil yaitu ma’rifat yang dialami oleh ulama syari’at.
3) Ma’rifat ikut-ikutan (taklid), yaitu tingkatan orang awam yang mengenal Allah, didasarkan kepada kezaliman dan tradisi yang berlaku tanpa didasari dalil yang kuat.[14]
B.   Ahwal
Istlah ahwal merupakan bentuk jamak dari hal. Secara etimologi, ahwal berarti sifat dan keadaan sesuatu. Secara terminologi, yang dimaksud dengan ahwal ialah keadaan atau kondisi psikologis yang dirasakan ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu.
Ahwal merupakan sebuah batasan teknis dalam displin tasawuf untuk suatu keadaan tertentu yang bersifat tidak permanen dan kebalikan dari maqamat, yaitu kedudukan kejiwaan yang lebih bersifat permanen. Hal masuk ke dalam hati sebagai anugrah dan karunia dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak terbatas pada hamba-Nya. Hal tidak dapat dicapai melalui usaha, keinginan, atau undangan. Hal datang dan pergi tanpa diduga-duga.
Dapat dikatakan bahwa hal merupakan pemberian yang berasal dari Tuhan kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Pemberian itu ada kalanya tanpa melalui usaha. Tidak semua orang yang berusaha itu berhasil, namun ia menjadi dambaan bagi setiap orang yang menjalani tasawuf. Hubungan antara usaha dan hasil dalam perkara ini tidak bersifat mutlak.
Ahwal yang sering dijumpai dalam perjalan kaum sufi, antara lain muhasabah (mawas diri) dan muraqabah (waspada), qarb (kedekatan), hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harap), syauq (rindu), uns (intim), thuma’ninah (tentram), musyahadah (penyaksian), dan yaqin (yakin).[15]
Penjelasan tentang hal-hal yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1.      Muhasabah dan Muraqabah (Mawas Diri dan Waspada)
Muhasabah ialah menyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan , dan rahasia dalam hati yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada-Nya.
Proses analisis atas hati berikut keadaannya selalu berubah. Selama seseorang melakukan muhasabah, ia merenung lalu memeriksa gerakan hati yang paling tersembunyi. Ia menghisab (menghitung) dirinya sendiri sekarang tanpa menunggu hingga hari kebangkitan.
Muraqabah mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dalam keadaan diawasi-Nya. Muraqabah dapat diartikan pula dengan melestarikan pengamatan terhadap Allah melalui hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya.
Muhasabah dan muraqabah merupakan dua hal yang salin berkaitan erat. Oleh karena itu, ada sufi yang mengupasnya secara bersamaan. Ketika seorang sufi selalu mawas diri, bercermin pada diri sendiri, maka akan melahirkan sikap waspada  agar kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukannya tidak dilakukan lagi.[16]
2.      Raja’ dan Khauf (Berharap dan Takut)
Dalam pandangan kaum sufi sifat mengharap dan takut berjalan secara berbarengan. Raja’ adalah perasaan optimis terhadap rahmat Allah, dan hati merasa tentram karena menunggu sesuatu yang diinginkan. Namun sikap mengharap itu diikuti oleh perasaan takut terhadap berbagai kemungkinan yang akan membawa kebencian Allah.[17] Raja’ menuntut tiga perkara, yaitu
a.       Cinta kepada apa yang di harapkannya.
b.      Takut apabila harapannya hilang.
c.       Berusaha untuk mencapainya.
Berkaitan dengan ini, Ahmad Faridh menegaskan bahwa khauf merupakan cambuk yang digunakan Allah untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju ilmu dan amal supaya dengan keduanya itu mereka dapat dekat kepada-Nya. Khauf  ialah kesaksian hati  karena membayang sesuatu yang ditakuti, yang akan menimpa diri di masa yang akan datang. Khauf  dapat mencegah hamba berbuat maksiat dan mendorongnya untuk senantiasa berada dalam ketaatan.
Khauf  dan raja’ saling berhubungan. Kekurangan khauf  menyebabkan seseorang lalai dan berani berbuat maksiat, sedangkan khauf  yang berlebihan akan menjadikannya putus asa dan pesimistis. Begitu juga sebaliknya, apabila sikap raja’ terlalu besar, hal itu akan membuat seseorang menjadi sombong dan meremehkan malan-amalannya karena rasa optimistisnya yang berlebihan.[18]
3.      Hubb (Cinta)
Hubb adalah cinta. Maksudnya, cinta seorang hamba kepada Tuhan. Dalam pandangan tasawuf, hubb pada dasarnya anugerah yang menjadi dasar pijakan hal, sama seperti taubat yang menjadi dasar pijakan maqam. Sementara itu, muhabbah ialah kecenderungan hati untuk memperhatikan keindahan dan kecantikan. Berkenaan dengan ini , Suhrawardi mengatakan, “Sesungguhnya, muhabbah ialah mata rantai keselarasan yang mengikat sang pencinta kepada kekasihnya. Perasaan ini merupakan ketertarikan kepada kekasih (Allah) yang menarik sang pencinta dan melenyapkan sesuatu dan wujudnya sehingga pertama-tama ia menguasai seluruh sifat-Nya, kemudian menangkap Dzat-Nya dalam genggaman qudrat (Allah) .”
Kecintaan dan kerinduan kepada Allah adalah salah satu simbol yang disukai sufi untuk menyatakan rasa kedekatannya dengan-Nya. Ajaran ini pertama kali diperkenalkan oleh Rabi’ah Al-Adawiyyah (w. 185 H), kemudian di kembangkan oleh Ibnu Al-Faridh (w. 863 H) dan Jalaluddin Rumi (w. 672 H).[19]
4.      Syauq dan Usn (Rindu dan Intim)
Dalam ajaran tasawuf  disebutkan bahwa seorang sufi selalu merasa rindu dalam jiwanya kepada Allah. Dalam pandangan sebagian sufi menyatakan bahwa maut adalah bukti yang benar ketika seorang sufi merasakan rindu kepada-Nya, dan melupakan Allah adalah lebih berbahaya dari kematian. Bagi mereka, kematian adalah sarana untuk bertemu dan melepaskan kerinduan dengan Allah, karena kehidupan adalah perintang pertemuan dengan Allah.
Intim merasa selalu berteman, bercengkrama dengan Allah. Seorang sufi yang memiliki perasaan intim berhubungan dengan Allah dengan penuh keasyikan dan kenyamanan. Mereka beribadah dengan penuh ketentraman dan ketenangan yang tiada bandingannya. Perasaannya selalu bersama dan berteman dengan Allah, yang hal itu dapat menghilangkan ingatannya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.[20]



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Maqam sering dipahami oleh para sufi sebagai tingkatan, yaitu tingkatan seorang hamba di hadapa-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan (riyadhah) jiwa yang dilakukannya. Maqam adalah hasil kesungguhan dan perjuangan terus menerus, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik.
Hal masuk ke dalam hati sebagai anugrah dan karunia dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak terbatas pada hamba-Nya. Hal tidak dapat dicapai melalui usaha, keinginan, atau undangan. Hal datang dan pergi tanpa diduga-duga. Dapat dikatakan bahwa hal merupakan pemberian yang berasal dari Tuhan kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
Antara maqam dan ahwal tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antar keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan, dan dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya.
B.   Saran
Setelah mengetahui penjabaran tentang maqamat dan ahwal beserta tingkatan-tingakatnnya, diharapkan pembaca bisa meningkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga bisa memperoleh karunia-Nya. Semakin khusyuk dan istiqomah ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentu akan meningkatkan derajat kita disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.








DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Rajawali pers. 2009
Munir Amin, Samsul. Ilmu Tasawuf. Jakarta : Amzah. 2015
Muchlis Solichin, Mohammad. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. Surabaya : Pena salsabila. 2013










[1] Samsul Munir Amin. Ilmu Tasawuf. (Jakarta : Amzah, 2015), 168.
[2] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 151-152

[3] Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf. (Jakarta : Rajawali pers. 2009), 194-195.

[4] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 152-153.

[5] Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf. (Jakarta : Rajawali pers. 2009), 198.
[6] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 155.
[7] Ibid., hlm. 156.
[8] Ibid., hlm. 156-157.
[9] Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf. (Jakarta : Rajawali pers. 2009), 200.
[10] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 156-157.
[11] Ibid., hlm. 159-161.
[12] Samsul Munir Amin. Ilmu Tasawuf. (Jakarta : Amzah, 2015), 175-176.
[13] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 163-166.
[14] Ibid., hlm. 169-173.
[15] Samsul Munir Amin. Ilmu Tasawuf. (Jakarta : Amzah, 2015), 177-178.
[16] Ibid., hlm. 178-179.
[17] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 177.
[18] Samsul Munir Amin. Ilmu Tasawuf. (Jakarta : Amzah, 2015), 181.
[19]Ibid., hlm. 179-180.
[20] Mohammad Muchlis Solichin. Akhlak Tasawuf dalam Wacana Konteporer. (Surabaya : Pena salsabila. 2013), 179-180.


No comments:

Post a Comment

Tasawuf Irfani, Konsep dan Tokohnya

MAKALAH TASAWUF IRFANI : (Konsep dan Tokohnya) Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata KuliahAkhlaqTasawuf Dosen Pengampu: Moch. Cho...