TASAWUF FALSAFI : KONSEP DAN TOKOHNYA
MAKALAH
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Yang
diampu oleh Moch. Cholid Wardi, M.H.I
Oleh
Saiful
Hasan
Syaifur
Rahman
Syukron
Amrullah
Wahid
Wahyudi
Yahya
Sutrisno
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai
macam nikmat , taufik serta hidayah kepada kita semua sehingga kita dapat
melaksanakan berbagai aktifitas dan kegiatan dalam kehidupan kita sehari-hari
dengan baik. Shalawat beserta salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW karna berkat
beliaulah kita dapat merasakan nikmatnya iman dan islam.
Makalah
ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas kelompok yang diembankan oleh
Dosen pengampu kami dalam mata kuliyah Akhlak Tasawuf yang tidak lain untuk
menguji dan mengembangkan serta mengasah kemampuan kami dalam mata kuliyah yang
dimaksud.
Isi
dari makalah ini berdasarkan pada hasil kerja kelompok dan hasil pemikiran
bersama serta mengambil beberapa refrensi buku yang Insya Allah
dapat dipercaya untuk dijadikan dalil.
Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini, oleh
karena itu kami mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta masukan yang
dapat membangun kami.
Pamekasan,
1 Oktober 2017
penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.
Latar Belakang...................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 2
C.
Tujuan.................................................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN................................................................................ 3
A.
Perkembangan dan Konsep Tasawuf Falsafi..................................... 3
B.
Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi.............................................................. 5
BAB III : PENUTUP........................................................................................ 8
A.
Kesimpulan............................................................................................ 8
B.
Saran...................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tasawuf adalah bagian dari syariat Islam, yaitu
perwujudan dan bentuk satu dari tiga kerangka ajaran Islam yang lain, yaitu
iman, Islam dan ihsan. Karena itu,
bagaimanapun perilaku tasawuf harus tetap berada dalam syariat. Tasawuf sebagai
manifestasi dari ihsan merupakan penghayatan terhadap agamanya serta berpotensi
besar untuk menawarkan pada spiritual, sehingga mengajak manusia mengenal
dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya.
Nilai-nilai kehidupan tasawuf di kalangan umat Islam
terus berkembang dengan pesat, karena percaturan tasawuf dengan berbagai unsur,
baik unsur Islam sendiri maupun dari unsur non-Islam yang mempengaruhi
kehidupan spiritual umat Islam.
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi
tasawuf menjadi dua. Pertama, Tasawuf Akhlaki, ada yang menyebutnya sebagai
tasawuf yang banyak dikembangkan oleh kaum salaf, karena mengarah pada
teori-teori perilaku. Kedua, Tasawuf Falsafi,
yaitu tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan
pemahaman mendalam. Tasawuf Falsafi ini banyak dikembangkan para sufi yang
berlatar belakang filsuf.
Pembagian dua jenis tasawuf di atas didasarkan atas
kecenderungan ajaran yang dikembangkan, yaitu kecenderungan pada perilaku atau
moral keagamaaan dan kecenderungan pada pemikiran. Dua kecenderungan ini terus
berkembang hingga mempunyai jalan sendiri-sendiri. Untuk melihat perkembangan
tasawuf ke arah yang berbeda ini, perlu ditinjau lebih jauh tentang sejarah
perkembangannya.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini ialah sebagai
berikut :
1. Apa konsep dari tasawuf Falsafi?
2. Siapa sajakah tokoh-tokoh dari tasawuf
Falsafi?
C.
Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini ialah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui konsep tasawuf Falsafi.
2. Untuk mengetahui dan mengenal tokoh-tokoh
dari tasawuf Falsafi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan dan Konsep Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya
memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan Tasawuf
Akhalaki, Tasawuf Falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam
pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam
ajaran filsafat yang telah memengaruhi para tokohnya.[1]
Tasawuf Falsafi secara sederhana dapat didefinisikan
sebagai kajian dan jalan esoteris dalam Islam untuk mengembangkan kesucian
batin yang kaya dengan pandangan-pandangan filosofis. Keberadaan tasawuf
bercorak falsafi ini pada satu sisi telah menarik perhatian para ulama yang
pada awalnya kurang senang dengan kehadiran filsafat dengan khazanah Islam.
Sementara bagi para ulama yang menyenangi kajian-kajian filsafat dan sekaligus
menguasainya, Tasawuf Falsafi bagaikan sungai yang airnya demikian bening dan
begitu menggoda untuk direnangi.[2]
Menurut At-Taftazani, Tasawuf Falsafi mulai muncul
dalam khazanah Islam sejak abad keenam hijriah, meskipun para tokohnya baru
dikenal setelah seabad kemudian. Sejak saat itu, tasawuf jenis ini terus hidup
dan berkembang, terutama di kalangan para sufi yang juga filsuf, sampai
menjelang akhir-akhir ini. Adanya pemaduan antara tasawuf dan filsafat dalam
ajaran Tasawuf Falsafi ini dengan sendirinya telah membuat ajaran-ajaran
tasawuf jenis ini bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat di luar Islam,
seperti dari Yunani, Persia, India dan agama Nasrani. Akan tetapi, orisinalitasnya
sebagai tasawuf tetat tidak hilang.
Sebab, meskipun mempunyai latar belakang kebudayaan dan pengetahuan yang
berbeda dan beragam, seiring dengan ekspansi Islam yang telah meluas pada waktu
itu, para tokohnya tetap berusaha menjaga kemandirian aliran mereka, terutama
apabila dikaitkan dengan kedudukannya sebagai umat Islam. Sikap ini dapat
menjelaskan kepada kita kegigihan para tokoh tasawuf jenis ini dalam
mengompromikan ajaran-ajaran filsafat yang berasal dari luar Islam ke da lam tasawuf mereka, serta
menggunakan terminologi-terminologi filsafat, tetapi menyesesuaikan maknanya
dengan ajaran tasawuf yang mereka anut.[3]
Masih menurut At-Taftazani, ciri umum tasawuf falsafi
adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dipahami
oleh mereka yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak dapat
dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq), tetapi tidak dapat pula
dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajarannya
sering diungkapan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.[4]
Filsafat sendiri tidak jauh berbeda dengan ajaran
tasawuf, yaitu mencari hakekat kebenaran dan sampai pada puncak ma’rifah
dan hal itu tentu tidak hanya dicapai dengan pemikiran belaka, namun harus
dengan Riadhoh dan menjauhi hal-hal yang bersifat materi.[5]
Penjelasan mengenai definisi filsafat menurut para
pakar filsafat klasik itu sendiri tidak jauh berbeda dengan definisi tasawuf
menurut para ‘Arifin. Sehinga difahami bahwa konsep Tasawuf Falsafi yang
selama ini dikenal sebagai kerangaka dari pemikiran Wahdatul Wujud sama
sekali jauh dari realitas ilmiah.[6]
Para sufi yang juga filsuf pendiri aliran tasawuf ini
mengenal dengan baik filsafat Yunani beserta berbagai alirannya, seperti
Socrates, Plato, Aristoteles, aliran Stoa, dan aliran Neo-Platonisme
dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan, mereka pun cukup akrab dengan
filsafat yang sering disebut Hermenetisme yang karya-karyanya banyak
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan filsafat-filsafat Timur kuno, baik dari
Persia maupun India, serta filsafat-filsafat Islam, seperti yang diajarkan oleh
Al-Farabi dan Ibnu Sina. Mereka pun dipengaruhi aliran batiniah sekte Isma’iliyah
aliran Syi’ah, dan risalah-risalah ikhwan Ash-Shafa.[7]
B.
Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi
Di antara tokoh-tokoh tasawuf falsafi adalah Ibnu
Arabi, Al-Jili, Ibnu Sab’in dan Ibnu
Masarrah serta masih banyak lagi yang lainnya :
1.
IBNU ARABI
a.
Biografi
singkat
Nama lengkap Ibn Arabi adalah Muhamad bin ‘Ali bin Ahmad bin
‘Abdullah Ath-Tha’I Al- Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara,
Spanyol, tahun 560 H., dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan.Namanya
biasa disebut tanpa “Al” untuk membedakan dengan Abu Bakar Ibn Al-
Arabi.
b.
Ajaran tasawufnya
Ajaran sentral Ibn ‘Ibn Arabi adalah tentang wahdat
al-wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah wahdat
al wujud yang dipakai yang disebut untuk ajaran sentral nya itu, tidaklah
berasal dari dia, tetapi berasal dari Ibnu Taimiyah, tokoh yang paling keras
dan mngecam dalam menkritik ajaran sentralnya tersebut.
Menurut Ibn Taimiyah wahdat al wujud adalah penyamaan Tuhan
dengan alam. Menurutnya, orang orang yang mempunyai paham wahdat al-wujud
mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib al-wujud
yang dimiliki oleh khaliq adalah juga mumkin al-wujud
yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu, orang-orang dengan paham wahdat al
wujud itu juga mengatakan bahwa wujud alam semesta sama dengan wujud Tuhan,
tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan.
Menurut Ibn arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu
dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khaliq pula. Tidak
ada perbedaan antara keduanya (khaliq dan makhluk) dari segi hakikat.
Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan wujud khaliq dan makhluk,
hal itu dilihat dari sudut pandang panca indera
lahir dan akal yang terbatas kemampuanya dalam menangkap hakikat apa yang ada
pada Dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu berhimpun
padanya. Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibn Arabi berikut ini :
“maha suci Tuhan yang telah menjadikan
segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu
itu.”
Adapun yang dimaksud oleh Ibn Arabi tentang wahdat al-wujud
adalah apabila Ibn Arabi menyebut wujud, maksudnya adalah wujud yang mutlak,
yaitu wujud Tuhan. Satu-satunya wujud menurut Ibn Arabi adalah wujud Tuhan,
tidak ada wujud selain wujud-Nya. Ini artinya apapun selain Tuhan
baik berupa alam maupun yang ada di alam, tidaklah memiliki wujud.
Kesimpulanya, kata wujud tidak diberikan kepada selain Tuhan. Pada kenyataanya,
Ibn Arabi juga menggunakan kata wujud untuk sesuatu selain Tuhan. Namun, ia
mengatakan bahwa wujud sedangkan wujud yang ada pada alam adalah wujud Tuhan
yang dipinjamkan kepadanya. Ibn Arabi memberikan contoh bahwa cahaya adalah
milik matahari, namun cahaya tersebut dipinjamkan kepada para penghuni bumi.
2. Al
– JILLI
a.
Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah Abdul karim bin Ibrahim Al- Jilli. Ia lahir
pada tahun 1365 M, di Jilan (Gilan), sebuah provinsi disebelah selayan Kasfia
dan wafat pada tahun 1417 M. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari Bahgdad.
Riwayat hidupnya tidak diketahui oleh para ahli sejarah, tetapi ada sebuah
sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perkalan ke India pada tahun 1387
M, kemudian belajar tasawuf dibawah bimbingan Abdul Qadir Al- Jailani. Disampin
itu ia juga berguru kepada Syekh Syafarudin Ismail bin Ibrahim Al Zabarti di
Zabid.
b.
Ajaran tasawuf Al – JILLI
Ajaran tasawuf Al-Jilli yang terpenting adalah paham Insan
Kamil (manusia sempurna). Menurut Al-Jilli, Insan Kamil adalah
muskhah atau copy Tuhan, seperti disebutkan dalam hadits yang artinya :
“ Allah
menciptakan Adam dalam bentuk yang Maha rahman”
Kemudian
hadits lain berbunyi yang artinya :
“Allah
menciptakan Adam dalam bentuk diri-Nya”
Tuhan memiliki sifat-sifat seperti
hidup, pandai, mampu berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Manusia (Adam) pun
memilik sifat-sifat seperti itu.
Al-Jilli
berpendapat bahwa nama dan sifat Ilahiah pada dasarnya merupakan milik insan
kamil sebagai suatu kemestian yang inheren dengan esensinya. Hal itu karena
sifat dan nama tersebut tidak memiliki tempat berwujud, melainkan pada insan
kamil. Al- Jilli mengemukakan bahwa perumpamaan hubungan Tuhan dengan insan
kamil bagaikan cermin. Seseorang tidak dapat melihat bentuk dirinya, kecuali
melalui cermin tersebut. Demikikan pula halnya dengan insan kamil, ia
tidak dapat melihat cermin dirinya, kecuali dengan cermin nama Tuhan,
sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat diri-Nya kecuali melalui cermin insan
kamil. Inilah maksud Q.S. Al- Ahzab : 72 yang artinya :
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada
langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu
dan mereka khawatir akan menghianatinya dan dipikilah amanat itu oleh
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”
Lebih lanjut Al-Jilli berkata bahwa duplikasi Al-Kamal
(kesempurnaan) pada dasarnya dimiliki oleh semua manusia. Al-Kamal
dalam konsepnya mungkin dimiliki manusia secara professional, yang terdapat
dalam diri wali dan diri nabi meskipun dalam intensitas yang berbeda.
Intensitas yang paling tinggi terdapat dalam diri Nabi Muhamad SAW. Manusia
lain, baik nabi ataupun wali bila dengan Nabi Muhamad bagaikan Al Kamil
(yang sempurna) dengan Al-Akmal (yang paling sempurna).
3. IBN
SAB’IN
a.
Riwayat Hidup Ibn Sab’in
Nama lengkap Ibn Sab’in adalah ‘Abdul haqq bin Ibrahim
Muhamad bin Nashr, seorang sufi yang juga filosof dari Andalusia. Ia
dipanggil Ibn Sab’in dan digelari Quthbuddin. Terkadang dikenal pula dengan
nama Abu Muhammad. Ia dilahirkan pada tahun 614 H. (1217 M-1218M) dikawasan
Murcia.
Ibn Sab’in meninggalkan karya sebanyak 41 buah, yang
menguraikan tasawufnya baik secra teoritis maupun praktis, dengan cara yang
ringkas maupun panjang lebar. Kebanyakan karyanya telah hilang.
b.
Ajaran Tasawuf
Ibn Sab’in
Ibn Sab’in adalah seorang pengasas sebuah paham dalam
kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan
esensial pahamnya sederhana saja, yaitu wujud adalah satu alias wujud Allah
semata. Wujud-wujud lainya hanyalah wujud yang satu itu sendiri. Jelasnya
wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari Wujud Yang
Satu. Dengan demikian, wujud dalam kenyataanya hanya satu persoalan yang tetap.
Paham ini dikenal dengan sebutan paham kesatuan mutlak. Hal ini
karena paham ini berbeda dari paham-paham tasawuf yang memberi ruang lingkup
pada pendapat-pendapat tentang hal yang mugkin dalam suatu bentuk. Dalam paham
ini Ibn Sab’in menempatkan Ketuhanan pada tempat pertama. Wujud Allah, menurutnya
adalah asal segala yang ada pada masa lalu, masa kini, maupun masa depan.
Sementara wujud materi yang tampak justru diwujudkan pada wujud mutlak yang
rohaniah. Dengan demikian, paham ini menafsirkan wujud bercorak spiritual bukan
material.
4.
IBN MASARRAH
a.
Biografi Ibnu
Masarrah
Nama lengkap Ibn Masarrah adalah muhammad bin ‘Abdullah
bin Masarrah (269-319 H.). Ia merupakan salah seorang sufi sekaligus filosof
dari Andalusia.
Dia lebih banyak disebut-sebut sebagai filosof ketimbang
seorang sufi. Namun, pandangan-pandangan filsafatnya tertutupi oleh
kezahidannya. Pada mulanya, Ibn Masarrah merupakan penganut sejati aliran mu’tazilah,
lalu berpaling pada madzhab “Neoplatonisme”. Oleh karena itu, ia dituduh
mencoba menghidupkan kembali filsafat yunani kuno ( Ibrahim Hilal, At-Tashawwuf
Al-Islami bain Ad-Din wa Al-Falsafahm Dar Al-Nahdhah Al-Arabiyah, Kairo, 1979,
hlm. 123-124)[8]
b.
Ajaran Tasawuf
Ibn Masarrah
Di antara ajaran-ajaran Ibn Masarrah adalah sebagai
berikut :
1. Jalan menuju keselamatan adalah menyucikan jiwa, zuhud,
dan mahabbah yang merupakan asar dari semua kejadian.
2.
Dengan
penakwilan ala philun atau aliran Isma’iliyyah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an,
Ibn Masarrah menolak adanya kebangkitan jasmani.
3. Siksa neraka bukanlah dalam bentuk yang hakikat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya
memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasanya. Berbeda dengan
tasawuf akhalaki, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam
pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam
ajaran filsafat yang telah memengaruhi para tokohnya.
Banyak sekali tokoh-tokoh yang sangat berperan penting
dalam perkembangan tasawuf falsafi salah satunya ialah seorang sufi yang
dianggap perintis tasawuf falsafi adalah Ibn Masarrah (w. 319/931),yang hidup
di Andalusia. Sekaligus dia dapat dianggap sebagai filosof sufi pertama dalam
dunia Islam. Tokoh kedua yang berpengaruh besar dalam duniatasawuf falsafi
adalah Suhrawardi al-Maqtul, sufi yang dibunuh di Aleppo pada tahun 587/1191.
Tasawuf falsafi di nusantara dipelopori oleh Hamzah
Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani, dua tokoh sufi yang datang dari pulau Andalas
(Sumatera) pada abad ke 17 M.
B.
Saran
Akhirnya terselesailah makalah yang sangat sederhana
ini walau di dalamnya masih terdapat banyak kesalahan yang harus diperbaiki
karena inilah hasil dari jerih payah kami, kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada dosen pengampu yang telah sudi dan ikhlas mendidik dan mengajari kami
serta kami sangat mengharap saran, masukan dan kritikan yang bersifat membangun
dari beliau dan teman sekalian demi kebaikan kita bersam ke depannya. Semoga
dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya
bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
2010
Basya
Al-Misriy, Badruttamam. Tasawuf Anak Muda.
Jakarta: Pustaka Group. 2009
Muchlis Solichin, Mohammad.Akhlak & Tasawuf.
Surabaya: Pena Salsabila. 201
[1] Rosihon
Anwar, Akhlak Tasawuf, Bandung:
Pustaka Setia, 2010, hlm. 277
[2]
Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak &
Tasawuf, Surabaya: Pena Salsabila, 2013, hlm. 136-137
[3]
Rosihon Anwar, op. cit., hlm. 277-278
[4]
Ibid.
[5]
Badruttamam Basya Al-Misriy, Tasawuf Anak
Muda, Jakarta: Pustaka Group, 2009, hlm, 64
[7]
Rosihon Anwar, op. cit., hlm. 278
[8] Neni nuraini,
“taswuf falsafi ”diakses dari http://arifims.blogspot.co.id/2015/01/tasawuf-falsafi-ibnu-arabi-al-jili-ibn.html, pada tanggal 20 november 2017 pukul 19.30

No comments:
Post a Comment